Kesabaran Seorang Muslim…

Bagaimana seorang muslim tidak bersabar, padahal segala sesuatu terjadi bersarkan qadha dan qadar Allah.

Bagaimana seorang muslim tidak bersabar, padahal segala sesuatu yang dikendaki Allah pasti akan terjadi.

Bagaimana seorang muslim tidak bersabar, padahal dia hanyalah seorang hamba yang mengikuti apa yang dikehendaki Allah.

Bagaimana seorang muslim tidak bersabar, sementara dia mengetahui bahwa cobaan yang Allah berikan kepadanya hanyalah untuk menguji, bukan karena membenci.

Bagaimana seorang muslim tidak bersabar, jika ia mengetahui rahmat Allah meliputi segala sesuatu dan selalu mendahului murkaNya.

Bagaimana seorang muslim tidak bersabar, sementara dia tahu bahwa dia tidak mempunyai daya dan upaya. Daya dan upaya hanyalah Milik Allah.

Bagaimana seorang muslim tidak bersabar, padahal dia mengetahui bahwa jika ridho kepada musibah yang menimpanya, ia akan memperoleh keridhoan Allah.

Bagaimana seorang muslim tidak bersabar, jika dia tahu ALLAH BERSAMA ORANG-ORANG YANG SABAR……

Assyahid Syech Ahmad Yassin

ahmad-yassin

” (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang umi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS : 7:157)

Mangkuk Cantik, Madu & Sehelai Rambut…

Rasulullah SAW, dengan sahabat-sahabatnya Abubakar r.a., Umar r.a., Utsman r.a., dan ‘Ali r.a., bertamu ke rumah Ali r.a.

Di rumah Ali r.a. istrinya Sayidatina Fathimah r.ha. putri Rasulullah SAW menghidangkan untuk mereka madu yang diletakkan di dalam sebuah mangkuk yang cantik, dan ketika semangkuk madu itu dihidangkan sehelai rambut terikut di dalam mangkuk itu.

Baginda Rasulullah SAW kemudian meminta kesemua sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut (Mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut).
Abubakar r.a. berkata, “iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti sehelai rambut”.

Umar r.a. berkata, “kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang raja itu lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Utsman r.a. berkata, “ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan ber’amal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
Ali r.a. berkata, “tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, menjamu tamu itu lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumanya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Fatimah r.ha.berkata, “seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita yang ber-purdah itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yangtak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Rasulullah SAW berkata, “seorang yang mendapat taufiq untuk ber’amal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, ber’amal dengan ‘amal yang baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat ‘amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Malaikat Jibril AS berkata, “menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, menyerahkan diri; harta; dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Allah SWT berfirman, ” Syurga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu, nikmat syurga-Ku itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju syurga-Ku adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Begitulah kalimat-kalimat indah yang diucapkan, sebagai pelajaran bagi umat.

Syurga di bawah Telapak Kaki Ibu…

Suatu sore, seorang anak menghampiri ibunya di dapur, lalu ia menyerahkan selembar kertas yang telah ditulisinya.

Setelah sang ibu mengeringkan tangannya dengan kain lusuh, iapun mulai membaca tulisan si anak, isinya begini :
o Untuk memotong rumput 2 Dinar
o Untuk membersihkan tempat tidur minggu ini 1 dinar
o Untuk membuang sampah 1 dinar
o Untuk nilai yang bagus 3 dinar
Jadi jumlah hutang ibu 7 dinar…

Sang ibu memandangi anaknya dengan penuh harap, berbagai kenangan terlintas dalam benak sang ibu….lalu ibu mengambil pulpen dan membalik kertasnya, dan mulai menulis :
o Untuk sembilan bulan mengandung kamu, GRATIS
o Untuk air susu ibu yang kamu minum, GRATIS
o Untuk semua malam ibu menemani kamu, GRATIS
o Untuk mengobati dan mendoakan kamu, GRATIS
o Untuk semua saat susah dan air mata ibu, GRATIS
o Untuk semua makanan, minuman, GRATIS

Anakku, kalau kamu menjumlahkan semuanya akan kamu dapati bahwa harga cinta ibu GRATIS……..

Seusai membaca apa yang ditulis ibunya, sang anakpun berlinang air mata dan menatap wajah ibunya….
Kemudian ia mengambil pulpen dan menulis sebuah kata dengan huruf besar…LUNAS !

Belajar dari Burung dan Cacing..

Seorang ulama besar mengatakan, bila kita sedang mengalami kesulitan hidup karena himpitan materi, maka cobalah kita ingat pada burung dan cacing…

Burung setiap pagi keluar dari sarangnya untuk mencari makan tanpa mengetahui kemana ia akan mendapatkannya, karenanya terkadang ia pulang sore hari dalam keadaan perut kenyang, kadang membawa oleh-oleh makanan untuk keluarganya, namun sering juga sang burung pulang dengan tangan hampa, dengan perut keroncongan…meskipun sang burung lebih sering kekurangan makan, karena tidak punya “kantor” yang tetap, namun tidak pernah sekalipun kita melihat ada burung yang berupaya bunuh diri ! kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba2 menukik mencoba membenturkan kepalanya ke batu cadas ! Nampaknya burung menyadari benar bahwa itulah makna hidup…suatu waktu ada di atas, lain waktu ia harus siap terhempas….

Kita lihat hewan yang lebih lemah daripada burung….cacing !
Cacing tidak punya kaki, tangan, apalagi sayap….tapi dia punya perut yang harus tetap diisi pada waktunya….cacing perlu makan..tetapi pernah kita melihat cacing yang putus asa ?!

Manusia diciptakan Allah sebagai makhluk yang paling sempurna, tetapi banyak yang kalah dibanding cacing atau burung…hampir setiap hari kita mendengar manusia bunuh diri karena alasan materi !……sungguh ironis memang